Participatory Postharvest Shallot Processing Training into Fried Shallots for Farmers in Watukalangkari Village, Bombana
DOI:
https://doi.org/10.58222/han1em73Keywords:
capacity building, farmers, postharvest processing, WatukalangkariAbstract
Postharvest losses and price fluctuations during peak harvest periods remain important constraints for shallot farmers in Watukalangkari Village, Bombana Regency, Southeast Sulawesi. Limited access to practical processing knowledge reduces opportunities to diversify farm products and increase their added value. This community engagement program aimed to improve farmers’ knowledge and skills in processing fresh shallots into fried shallots through participatory training. The program involved 25 participants and combined needs assessment, interactive education, guided processing demonstrations, packaging practice, and pre-test/post-test evaluation. Training addressed raw material handling, uniform slicing, controlled frying, oil draining with a spinner, and basic hygienic packaging and labeling. Based on the reported aggregate assessment, the mean score across four indicators increased from 27.5% before training to 85.0% afterwards, a gain of 57.5 percentage points. The largest gains (65 percentage points each) were observed in frying and oil-draining skills and in packaging and labeling knowledge. Photographic documentation also showed participant involvement in hands-on processing and the production of packaged fried shallots. The findings indicate an immediate improvement in training-related knowledge and practical readiness. However, individual assessment data, laboratory quality tests, validated shelf-life measurements, and detailed business records were unavailable; therefore, the results cannot establish long-term product stability or income growth. Continuous mentoring and standardization of production, food safety, packaging, and business records are recommended to support sustainable village-level shallot processing.
References
Badan Pusat Statistik Kabupaten Bombana. (2025). Kabupaten Bombana dalam Angka 2025. BPS Kabupaten Bombana.
Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara. (2024). Produksi tanaman sayuran dan buah-buahan semusim menurut jenis tanaman (kuintal), 2020–2023. https://sultra.bps.go.id/id/statistics-table/1/NDY2OCMx/production-of-seasonal-vegetables-and-fruits-by-kind-of-plant---quintal---2020-2023.html
Chu, Y.-H., & Hsu, H.-F. (2001). Comparative studies of different heat treatments on quality of fried shallots and their frying oils. Food Chemistry, 75(1), 37–42. https://doi.org/10.1016/S0308-8146(01)00180-7
Elfiana, E., Ridwan, R., Prihatin, N., Rahmahwati, C. A., Pardi, P., Zaini, H., & Sami, M. (2023). Penerapan teknologi spinner untuk meningkatkan kualitas bawang goreng. Jurnal Vokasi, 7(1). https://doi.org/10.30811/vokasi.v7i1.3840
Gusnawaty HS, Taufik, M., Aka, R., & Amartani, K. (2024). Bimbingan teknis sistem peternakan semi ekstensif dan pengolahan limbah terfermentasi untuk mendukung kebutuhan pupuk organik. Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 6(1), 50–59. https://jurnalamalilmiah.uho.ac.id
Gusnawaty HS, Taufik, M., Aka, R., Amartani, K., & Botek, M. (2025a). Integrasi budidaya bawang merah dan ternak sapi di Desa Watukalangkari, Bombana. Pakdemas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 5(1), 39–46. http://jurnal.faperta-unras.ac.id/index.php/pakdemas
Gusnawaty HS, Taufik, M., Aka, R., Amartani, K., & Botek, M. (2025b). Inovasi dan teknologi sistem budidaya bawang merah di Desa Watukalangkari, Bombana. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 4(2), 319–326. http://journal.bengkuluinstitute.com/index.php/jp
Gusnawaty HS, Taufik, M., Aka, R., & Amartani, K. (2025c). Pendampingan teknologi budidaya bawang merah di Desa Watukalangkari, Bombana. Jurnal Karya Pengabdian, 7(1), 76–84. http://jkp.unram.ac.id/index.php/JKP
Gusnawaty HS, Taufik, M., & Botek, M. (2025d). Penerapan aplikasi Trichoderma sp. untuk meningkatkan produksi cabai bebas residu pestisida kimia di Desa Wolasi, Kecamatan Wolasi, Kabupaten Konawe Selatan. Jurnal Pengabdian, 4(1), 33–40. http://journal.bengkuluinstitute.com/index.php/jp
Hasanah, N., & Lestari, S. (2022). Strategi penanganan pascapanen dan hilirisasi komoditas hortikultura untuk kesejahteraan petani. Jurnal Agribisnis Terpadu, 15(1), 45–58.
Le, H. M. Q., Tran, N. H. A., Nguyen, K. H., Nguyen, H. D., Tran, T. T. T., & Le, V. V. M. (2023). Frying of sliced shallot (Allium ascalonium): Product quality and kinetic models at different frying temperatures. VNUHCM Journal of Engineering and Technology, 6(3), 2026–2034. https://doi.org/10.32508/stdjet.v6i3.1160
Pratama, R., & Wijaya, A. (2023). Penerapan teknologi tepat guna spinner dalam meningkatkan kualitas produk bawang goreng skala rumah tangga. Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat, 7(2), 112–120.
Setyadjit. (2015). Teknologi pascapanen bawang merah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. ISBN 978-602-1280-27-0.
Supriadi, D., Rosmawati, R., & Indrayani, I. (2024). Pemberdayaan kelompok tani melalui diversifikasi produk olahan bawang merah guna menghadapi fluktuasi harga panen raya. Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat, 10(3), 204–215.
Waluyo, N., & Sinaga, R. (2015). Bawang merah yang dirilis oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Iptek Tanaman Sayuran, No. 004, 21 Januari 2015. Balai Penelitian Tanaman Sayuran.
Wulandari, T. (2021). Pengaruh teknik pengemasan dan jenis bahan kemasan terhadap masa simpan kualitas daya tahan bawang goreng. Jurnal Teknologi Pangan, 12(2), 89–97.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Gusnawawty HS, Muhammad Taufik, Kalis Amartani, Muhammad Botek

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.













